19 - Dzulqa'dah - 1325 H

Pada malam Selasa 19 Dzul Qa’dah 1325 Di mushallanya beliau (Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi – penulis Maulid Simthu ad-Durar) berkata;

Orang-orang di zaman ini kebanyakan berhati kasar. Tidak ada manfaat pada diri mereka sama sekali. Jika kamu ingin berada di majelis yang jernih, maka harus dipastikan agar tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengotorinya dengan kejadian-kejadian duniawi yang ada di benak mereka.

Keinginan orang-orang di zaman ini menjadi rendah. Tujuan mereka semuanya hanyalah duniawi. Engkau tak akan mendapat seorang pun di antara mereka yang berkata; “Tolong doakan aku agar Allah memperbaiki hatiku dan mendekatkanku kepada-Nya.” Tidak ada, bahkan setiap orang di antara mereka yang datang kepadamu, mereka akan berkata; “Tolong doakan aku agar mendapat rezeki halal. Dan agar keluargaku diberkahi (dunianya).” Mereka semua lalai. Tak ada di antara mereka yang menginginkan kedudukan tinggi (di sisi Allah). Padahal rezeki itu telah dijamin oleh Tuhan yang Maha Besar.

Pada hari Selasa, setelah shalat Subuh, beliau rhm. menuangkan curahan Ilahi yang tertuang dalam dirinya ke dalam bentuk syair yang permulaannya adalah:

Tuangan untuk para pecinta dalam wawasan kedekatan
Mereka dapatkan sesuatu yang tak dicapai dengan usaha

Sampai ucapan beliau:

Dalam kedudukan seperti itu tak tersisa pada mereka
setitik dosa pun, Karena penyingkapan itu melenyapkan dosa

Kemudian beliau membaca ayat ini:

Sesungguhnya Kami telah membukakan bagimu Pembukaan yang Nyata, agar Allah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang. (Qs. Al-Fath: ayat 1 – 2)

Lalu beliau melanjutkan syairnya hingga selesai.

Setelah itu beliau memulai majelis di durmahnya di tempat anaknya yang bernama Alwi. Beliau memerintahkan syaikh Bakran Ba Jammal untuk mendendangkan syair yang tersebut di atas. Maka syair itu didendangkan. Setelah itu beliau berkata;

Syairku ini tadi pagi aku tuangkan di hadapan Umar bin Muhammad. Syair yang mencakup banyak hal. Syair itu menjelaskan tentang rahasia pecinta, dan rahasia yang dicinta. Syairku seluruhnya berkutat seputar pintu yang agung yaitu beliau Saw. Engkau (Rasulullah) adalah pintu Allah Swt. Seseorang yang akan mendatangi-Nya selain dari pintumu, maka ia tak mungkin masuk (ke hadirat Ilahi). Kita akan berpegang teguh pada pintu ini. Kita tidak akan melepaskan pintu ini selama-lamanya.

Beliau rhm berkata;

Dulu syaikh Ibn Hajar al-Atsqalaniy memiliki saudara perempuan yang bernama Sittur Rakab. Dalam biografi Ibn Hajar disebutkan bahwa beliau menimba ilmu dari empat ratus guru, dan beliau menyebutkan di antara mereka terdapat lima puluh guru dari kalangan perempuan yang di antaranya adalah saudara perempuannya sendiri yang bernama Sittu Rakab.

Perhatikanlah, para wanita itu adalah guru-guru lelaki yang berkedudukan. Sedangkan kita saat ini, hanya menginginkan para lelaki menjadi orang-orang yang saleh saja, tidak bisa (apalagi wanita).
Allah telah memberikan taufik dan mengistimewakan mereka dengan kedekatan di sisi-Nya dan makrifat. Allah mencintai mereka. Seseorang dari kalangan sayyid yang hidupnya tidak baik mendatangiku dan berkata, “Wahai Ali, doakanlah aku agar Allah menjadikanku tergolong hamba yang dicintai-Nya.” Aku berkata kepadanya, “Mengapa kau meminta hal itu?” Ia menjawab, “Iya, bukankah jika anakmu kencing saat di pangkuanmu, atau buang hajat di bajumu, maka kamu tetap bahagia atas kencing dan kotorannya?

Jika seseorang memarahi anakmu, maka kondisi itu akan menjadikanmu marah? Maka begitu juga Tuhan, jika kau telah dicintai-Nya, maka maksiat dan pelanggaran apa pun yang kau lakukan, akan diampuniNya.” Maka aku berkata kepadanya, “Semoga Allah menjadikan aku dan kamu sebagai hamba-hamba yang dicintai-Nya.” Alhamdulillah, saat ini sayyid itu menjadi hamba yang dicinta Allah.

Beliau rhm berkata:

Jika Allah membentangkan ridha-Nya kepada penduduk neraka, maka penduduk neraka itu akan merasakan kenikmatan di dalam neraka seperti kenikmatan yang dirasakan penduduk surga di dalam surga. Dan jika Allah membentangkan murka-Nya kepada penduduk surga, maka penduduk surga itu akan merasakan siksa di dalam surga, seperti tersiksanya penduduk neraka.

Walahu a’lam

Diterjemahkan oleh : Husin Nabil
Note: Maaf, dilarang mengcopy atau mencetak terjemahan ini.